DI TENGAH hujan rintik-rintik, kami tetap melaju dengan motor menuju Desa Kanekes, desa tempat bermukimnya Masyarakat Adat Baduy – desa yang oleh banyak orang disebut sebagai rumah terakhir kearifan. Perjalanan kami tempuh selama 2 jam dari Kota Serang. Melaju pelan, menyusuri batas antara kota dan hutan, antara hiruk dan hening, antara yang kita sebut “kemajuan” dan yang mereka yakini sebagai “ketundukan”.
Sesampainya di bawah kaki gunung Kendeng, tempat suku adat baduy bermukim, kami disuguhkan pemandangan yang cukup menarik perhatian, masyarakat Baduy baris beriringan menuruni kaki gunung, entah kemana tujuannya. Kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menaiki tangga tangga kecil hingga ke pintu masuk pemukiman Desa.
Setelah mengisi daftar tamu dan membayar Rp5.000 per orang, kami melangkah masuk, merasakan suasana yang berbeda dari hiruk pikuk kegiatan masyarakat kota. Rumah bambu, jalan bebatuan, dan aktivitas bertenun dari perempuan Baduy menyuguhkan pemandangan asri.

Kami datang ke Baduy bukan semata-mata sebagai pelesir budaya. Kami datang membawa tanya, bagaimana Masyarakat Baduy menghadapi perubahan iklim yang kian menjadi, panas dan hujan yang tidak menentu, hingga panen yang gagal terus menerus?
Di tanah leluhur yang dikelilingi hutan dan hening, masyarakat Baduy, khususnya Baduy-Dalam, menjalani hidup dalam ritme yang berpadu dengan alam. Membuka lahan bukan sekadar aktivitas bercocok tanam—ini adalah laku budaya, dijalani dengan gotong royong dan seizin Kolot, Puun, atau Djaro. Sebuah proses yang sarat makna, bukan hanya soal menanam, tetapi juga menjaga.
Peralatan yang digunakan sederhana, tradisional, seperti juga cara mereka memahami alam. Karena itu, lahan baru yang mereka garap pun tak lebih dari satu hektar—cukup untuk kehidupan, tak rakus dalam pemanfaatan. Mereka memilih lokasi dengan hati-hati: hutan yang dianggap ‘aman’, di mana keseimbangan ekologis tetap terjaga, dan waktu yang tepat: saat angin tak bertiup kencang dan hujan belum turun.
Ritual membuka lahan diawali dengan doa dan penghormatan kepada alam. Pepohonan ditebang, kayu dikumpulkan, lalu dibakar dengan cara yang diwariskan turun-temurun—kontrol api yang bukan hanya soal teknis, tapi juga spiritual. Abu yang tersisa dipercaya sebagai pupuk alamiah, hadiah dari proses yang bersahaja.
Lahan baru ini biasanya digarap oleh keluarga baru, atau ketika lahan lama mulai kehilangan kesuburan. Tapi lahan yang ditinggalkan tak berarti ditinggalkan selamanya. Setelah satu-dua musim, mereka kembali, memberi waktu bagi tanah untuk beristirahat, untuk pulih.(Siombo, 2022)
Sebuah bukti bahwa kearifan lokal tak hanya hidup di masa lalu, tapi masih relevan di tengah tantangan hari ini. Mereka mengajarkan pada kita—bahwa hidup berdampingan dengan alam bukanlah pilihan, melainkan warisan yang harus dijaga.
Baduy Luar: Modernisasi Tanpa Penguatan
Observasi pertama kami lakukan terhadap Jaro Oom, Kepala Desa Kanekes. Rumah Jaro Oom tak jauh dari gerbang masuk Desa Kanekes. Sebuah rumah panggung sederhana yang menandai batas antara dunia luar dan sebuah dunia yang mencoba bertahan dengan nilai-nilai leluhurnya.
Kami dipersilakan duduk, lalu memulai percakapan yang segera membuka lapisan demi lapisan dari kisah modernisasi yang tak lagi bisa dibendung. “Perubahan mulai terasa sejak 2010,” ujar Jaro Oom.

Tahun itu, katanya, adalah awal mula gelombang perilaku baru masuk ke wilayah Baduy Luar. Seiring dengan langkah kaki para wisatawan dan para pedagang, datang pula sabun, sampo, dan perangkat komunikasi modern. Sabun dan sampo kini digunakan bahkan untuk bayi—sebuah pemandangan yang asing bagi Baduy Dalam yang masih setia pada ramuan daun honje.
Namun, perubahan ini bukan sekadar soal pilihan produk. Ini adalah soal masuknya logika konsumsi dan gaya hidup yang berbeda dari nilai adat yang telah berabad-abad dijaga. Limbah domestik mulai mencemari lingkungan, tetapi kesadaran atas ancamannya belum benar-benar hadir. Masyarakat melihatnya sebagai bagian dari ‘kemajuan’, bukan krisis yang mengendap perlahan.
Di luar rumah Jaro, kami bertemu dengan seorang warga yang bercerita, piring dan gelas kaca, motor, bahkan smartphone sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari sebagian masyarakat Baduy Luar.
Ketika kami bertanya bagaimana dengan aturan adat yang melarang semua itu, ia menjawab singkat: “Karena kebutuhan,” katanya.
Modernisasi di sini tampak seperti jalan dua arah yang tidak seimbang. Di satu sisi, masyarakat tergoda untuk menjangkau dunia luar demi bertahan hidup. Di sisi lain, sistem adat yang menjadi benteng nilai-nilai kolektif perlahan ditinggalkan, tidak karena dilawan, tetapi karena tidak lagi mampu menjawab kebutuhan hari ini.
Kadang aturan adat itu masih dilafalkan, tapi tidak ditaati, seperti mantra yang sudah kehilangan kekuatannya.
Kami juga berbincang dengan Ratna, salah seorang perempuan Baduy Luar, terkait adanya bantuan atau program dari pemerintah. “Tidak ada bantuan pemerintah untuk pembangunan, palingan bansos. Waktu itu pernah mau bangun jalan, tapi ditolak ketua adat,” tuturnya.
Bantuan sosial diterima, tapi pembangunan infrastruktur yang bertentangan dengan prinsip adat ditolak. Pemerintah tampak gamang menghadapi komunitas ini: terlalu hati-hati untuk masuk, tapi juga terlalu jauh untuk benar-benar hadir. Hasilnya, Baduy berjalan sendiri di tengah arus modernisasi yang kian deras—tanpa pendampingan, tanpa penguatan kapasitas.
Bahkan dalam urusan warisan, adat tetap memegang kendali: tanah tidak boleh dijual, dan harus diurus bergiliran oleh semua anak. Tapi sampai kapan? Ketika lahan tak lagi subur akibat perubahan iklim, ketika air bersih tercemar oleh limbah domestik, dan ketika generasi muda mulai merasa terjepit di antara dua dunia—adat dan kebutuhan.
Modernisasi di Baduy terjadi bukan karena mereka siap, tapi karena dunia tak memberinya pilihan. Persoalannya bukan pada modernisasi itu sendiri, tetapi pada absennya penguatan nilai, kapasitas, dan kesadaran kritis untuk menyikapi perubahan. Tanpa pendampingan yang berbasis budaya dan lingkungan, modernisasi justru menjadi ancaman. Ia masuk tanpa permisi, tanpa filter, dan tanpa tawaran solusi jangka panjang.
Adat Baduy masih berdiri. Tapi seperti rumah tua yang mulai keropos, ia butuh lebih dari sekadar nostalgia. Ia butuh penguatan—bukan pengekangan, bukan juga eksploitasi. Agar nilai-nilai luhur tak hanya bertahan sebagai cerita, tapi menjadi landasan bagi masa depan yang lebih lestari dan berdaulat.
Pengelolaan Sampah di Baduy Luar
Di tengah hutan dan rumah bambu, ada satu hal yang terasa asing: plastik. Kemasan mie instan, bungkus snack dan botol minuman menjadi masalah besar yang mulai terlihat.
Kedatangan wisatawan ke wilayah Baduy membawa lebih dari sekadar kekaguman terhadap tradisi—ia juga membawa konsekuensi. Di balik rasa ingin tahu dan jejak kaki para pelancong, mengalir satu bentuk “dagangan baru” yang tak diundang: sampah plastik dari makanan dan minuman instan.
Karena tidak tersedianya warung makan yang memadai, produk-produk instan seperti mie dalam cup, jajanan dalam kemasan, hingga minuman dalam botol dan kaleng mulai membanjiri wilayah Baduy—baik Baduy Luar maupun Baduy Dalam.
Barang-barang ini datang cepat, tetapi tak pernah benar-benar pergi. Mereka menetap dalam bentuk sampah yang mencemari tanah, mengotori aliran air, dan perlahan menodai kesucian alam yang selama ini dijaga dengan penuh hormat.
Kini, Sungai Ciujung yang dahulu jernih, mulai menampakkan luka. Plastik dan botol bekas berserakan di bantaran, menjadi saksi bisu perubahan yang tak diinginkan. Ironisnya, kerusakan ini masih luput dari perhatian—belum banyak dibicarakan, bahkan oleh para pegiat lingkungan sekalipun.

Di tanah yang dulu begitu bersih dan lestari, masyarakat Baduy kini dihadapkan pada tantangan baru: menjaga adat dan lingkungan di tengah gempuran modernitas yang datang tanpa aba-aba. (Dachlan. 2019)
Seorang perempuan Baduy yang kami temui tengah duduk bertenun di depan rumah panggungnya, menunduk sejenak saat kami tanyakan ke mana biasanya sampah dibuang.
Ia tak langsung menjawab. Kemudian ia mengungkapkan, lirih tapi jujur, “Ada saja yang membuang sampah ke jurang kalau tidak ketahuan.” Kalimat itu bukan keluhan, bukan pula pembelaan. Lebih mirip bisikan rasa bersalah yang telah terlalu lama dipendam, tapi tak tahu kepada siapa harus diadukan.
Tak ada sistem pembuangan terpadu yang bisa menampung sisa-sisa yang datang dari dunia luar. Maka, perempuan menjadi garda terdepan dalam urusan ini. perempuan-perempuan Baduy, dengan tenang dan tekun, mengambil alih urusan yang tak tertulis ini, mengatur, memilah, menyembunyikan. Di balik rumah bambu, mereka membakar sisa plastik, kadang menguburnya dalam diam.
Sampah-sampah kecil itu menjadi simbol dari sistem luar yang datang tanpa pengetahuan yang cukup, dari kebijakan yang hanya melihat permukaan, dari ketidakhadiran negara pada level paling dasar—bagaimana menjaga harmoni hidup tanpa merusak yang telah ada.
Belum Adaptif Terhadap Perubahan iklim
Bagi masyarakat Baduy, perubahan iklim bukan sesuatu yang dibicarakan dalam forum atau musyawarah adat. Ia datang diam-diam, tanpa banyak disadari, dan dampaknya kerap dianggap sebagai bagian dari siklus alam biasa. Tapi kenyataan di ladang menunjukkan hal sebaliknya.
Kemarau panjang membuat tanah mengeras seperti batu. Padi yang biasanya tumbuh dengan biji yang penuh dan berat, kini banyak yang hampa. Hasil panen menurun drastis dari tahun-tahun sebelumnya.
Tapi bagi sebagian besar masyarakat Baduy Luar, ini bukan musibah iklim. Ini adalah cerminan dari pelanggaran terhadap aturan adat, atau biasa disebut kualat, khususnya akibat sudah mulai menggunakan alat-alat modern, sebuah keyakinan yang dalam dan sulit digoyahkan.

Alih-alih membangun sistem irigasi atau mencoba pupuk organik untuk memulihkan tanah, masyarakat Baduy memilih jalan yang lebih familiar: mengurangi jumlah tanaman, atau menjadi buruh tani di ladang milik orang lain. Jika gagal panen, mereka tak panik.
Mereka “pasrah”—bukan dalam arti menyerah, tetapi dalam makna yang khas: bekerja keras sekuat tenaga, namun tetap menerima hasil akhir sebagai bagian dari kehendak alam dan adat.
Di tengah krisis iklim global yang mendesak berbagai komunitas untuk beradaptasi, masyarakat Baduy masih berada dalam ruang yang nyaris hening. Tidak ada program mitigasi, tidak ada pengelolaan risiko bencana, dan tentu saja, tidak ada intervensi teknologi pertanian. Ketahanan hidup mereka bertumpu pada tradisi, bukan inovasi.

Hal serupa terlihat ketika penyakit datang, terutama pada anak-anak yang kian rentan terhadap perubahan cuaca yang tak menentu. Flu dan demam menjadi penyakit musiman, tapi bukan alasan untuk langsung mencari dokter. Obat tradisional dari daun dan akar tetap jadi pilihan utama. Hanya jika gejala memburuk, barulah mereka berjalan jauh mencari pertolongan medis di luar kawasan adat.
Dalam pengelolaan lahan pun, mereka mulai menghadapi tantangan baru: keterbatasan ruang. Pertumbuhan penduduk tidak dibarengi dengan perluasan lahan tanam. Beberapa warga bahkan harus menyewa lahan di luar wilayah Baduy untuk bertahan.
Sebuah ironi terselubung di balik prinsip “tanah adat tidak boleh dijual”—nilai yang dilestarikan, tapi di saat yang sama menciptakan keterbatasan baru dalam konteks ekonomi dan ketahanan pangan.
Perubahan iklim bukan hanya tentang cuaca yang semakin ekstrem. Ia menguji daya tahan, kapasitas adaptasi, dan keberanian untuk mengubah cara hidup. Dalam konteks Baduy, ujian ini belum dijawab secara memadai. Mereka tetap teguh pada prinsip, tapi belum sepenuhnya bersiap pada tantangan yang semakin nyata.
Tradisi bisa menjadi kekuatan. Tapi tanpa ruang untuk adaptasi, ia juga bisa menjadi sekat yang membuat suatu komunitas rentan. Masyarakat Baduy belum kalah oleh perubahan iklim—tapi juga belum sepenuhnya siap menghadapinya.
Dan di tengah dunia yang terus memanas, ketidaksiapan itu bukan sekadar persoalan lokal, tapi tanda bahaya yang lebih besar: bahwa perubahan paling nyata sering kali datang sebelum kita sempat menyadarinya.
Kontributor: Bella Rusmiyanti & Sopyan

Komentar